Menu

Jumat, 06 Mei 2011

kumpulan cerpen karya Dedi Prestiadi


PIKUN
Oleh: Dedi Prestiadi
Gaya bicaranya yang nglantur dan asal ngomong. Jalannya yang pelan dan membungkuk seakan sudah menjadi ciri yang khas bagi wartiah wanita tua yang usianya hampir satu abad ini. Ya rumahnya yang persis dibelakng rumahku membuat aku kenal betul dengannya. Ia tinggal dengan kedua anaknya disebuah rumah yang saling bergandengan layaknya rumah-rumah di perumahan elit sana. Rumah yang dulunya pernah ia tempati sewaktu kedua anaknya masih kecil, kini rumah itu telah ia wariskan pada anaknya.
Betapa kagetnya aku mendengar kabar jika wartiah telah tiada. Aku yang tidak tau peristiwa itu karena aku sedang merantau jauh. Aku mendengar berita itu tatkala aku mendapat undangan dari menantunya untuk kendurenan dirumahnya. Betapa terkejutnya aku yang baru pulang dari perantauannya. Belum satu jam aku dirumah aku sudah mendapat berita yang menyedihkan ini. Aku yang rencanannya pulang untuk istirahat akhirnya tidak jadi aku pustuskan untuk pergi kerumah anaknya memenuhi undangan yasinan dirumahnya.
Rasa penasaranku akan sebab kematian wartiah tiba-tiba muncul di benakku. Aku yang saat itu berniat mengirimkan do’a kepada wartiah tiba-tiba bercampur dengan keinginan yang lain yakni ingin mengetahui sebab kemtian wartiah.
***
Orang orang mulai berdatangan. Mengisi sudut ruang sempit dirumah wartiah dulu. Aku yang sudah datang dulu dirumahnya saat yang lain belum datang untuk kendurenan maklum saja karena rumahku dengan rumah wartiah hanya dipisahkan oleh gang sempit yang tidak kurang dari tiga meteran itu. Waktu terus berjalan seiring dengan semakin sesaknya tempat dudukku ini karena desakan dari orang-orang yang datang untuk mendoakannya. Nampaknya seluruh tamu undangan sudah datang. Pak kyai yang memimpin tahlilan membuka acara untuk berdoa bersama-sama. “terima kasih kepada seluruh undangan yang sudah berkenan hadir untuk mendoaakan arwah almarhum, semoga dengan kita memanjatkan do’a dia bisa mendapat tempat yang layak di sisiNya” tutur pak kyai sebelum acra tahlilan dimulai.
Dari pojok tempat dudukku akulihat minten dan sutri anak wartiah serta parno menantu wartiah suami dari sutri. Dari kejauhan aku lihat raut mukanya yang murung dan matanya yang lebam menandakan betapa ia sangat terpukul akan kepergian ibunya. Hari ini adalah hari ketiga dari kematian ibunya tentulah kesedihan masih sangat dirasakan olehnya.
***
Acara tahlilan sudah usai. Suasana orang-orang yang tadi khusyu  membaca surat yasin kini mulai ramai dan ribut oleh orang-orang yang asik ndopok. Sembari menikmati jajanan dan secangkir teh hangat. Suasana saat itu benar-benar hangat oleh dopokan orang-orang tua meskipun diluar gerimis. Aku nikmati jajajnan dan secangkir wedang teh anget lalu aku coba beranikan untuk bertannya seorang yang duduk di sampingku. Rasa penasaranku ini yang tidak bisa aku kendalikan. Aku ingin tau.
“kapan wartiah meninggal kang?” ku awali pertanyaan pada salah seorang yang duduk persis di sampingku.
“tiga hari yang lalu, yah pada hari senin malam”.
“sebelum meninggal sakit atau bagaimana kang?”
“meninggalnya sangat mendadak dan tak terduga”. Terang lelaki ini yang membuat rasa penasaranku kian meninggi.
“memangnya apa yang terjadi dengan wartiah?”
“wartiah meninggal di pos Kampling, karena minggat dari rumahnya”.
Mendangar kata-kata lelaki ini aku sangat terkejut.
***
Teringat masa lalu saat wartiah masih hidup. Aku sempat tersenyum dan geram dibuatnya. Wanita tua yang seumuran dengan nenekku yang sudah lama meninngal ini memang meninggalkan banyak kisah. Dulu saat aku dan dia sama-sama pergi ke surau depan rumahku. Aku dibuat tertawa bagaimana tidak, setiap selesai sholat dan hendak pulang kerumah ada-ada saja perilakunya. Kebiasaan suka meninggalkan sandal di surau juga menambah keunikan wartiah, sehingga alhasil dia sering pulang dalam keadaan nyeker tanpa menggunakan alas kakinya. Kebiasaannya yang lain yakn selalu mengikuti siapa saja untuk sampai kerumahnya. Memang kasian jika melihat kepikunan wartiah yang sudah kelewat batas. Sampai dia sendiri lupa akan jalan rumahnya, tentunya jalan penuh kenagan dulu. Tidak hanya sebatas itu yang lebih menyayat hatiku ternyata waritiah terkadang lupa pada diriku. Aku terheran kenapa dia selalu lupa pada diriku padahal aku sering mengantarnya pulang jika ia lupa jalan pulang. Aku teringat setiap kali aku bertemu dengannya dia selalu menanyakan, “kapan koe balik ndo?, ko aku ya mbene weruh koe”?  aku hanya bisa tersenyum heran kenapa dia selalu bertanya seperti itu, padahal aku  setiap sore mengantarkannya pulang. Yah, sudahnlah aku maklumi saja toh memang sudah tua ya maklum lo sering lupa.
***
Suasana yang aku rasakan justru berbeda sekali dengan yang dirasakan oleh keluarga wartiah. Jika aku masih sabar dibuat oleh ulah wartiah lain halnya dengan anak wartiah minten dan sutri yang nampaknya sudah habis kesabarannya oleh ulah wartiah. Suasana percekcokan seringkali terjadi antara wartiah dan anaknya yang mungkin kesal dengan ulah pikun wartiah. Aku sudah sering mendengar percekcokan itu. Salah satu yang kudengar yakni wartiah ingin meninggalkan rumahnya sendiri. Aku tak tau apa alasan wartiah menginginkan hal itu. Dari yang kudenagar wartiah pikun dengan rumahnya sendiri ia merasa jika ini bukanlah rumahnya sehingga ia merasa ingin minggat dari rumahnya. Entahlah aku tidak tau persis kenapa dia ingin meninggalkan rumahnya. Pikirku mungkin ia sudah pikun oleh suasana rumahnya sendiri. Sampai-sampai terkadang pintu selalu dikunci rapat-rapat supaya wartiah tidak bisa keluar dari rumahnya. Tapi kadang juga aku berfikir apakah dia bosan dengan dirinya yang pikun yang selalu menjadi penyebab utama percekcokannya dengan anaknya.
Kini wartiah telah tiada. Dia sudah tenang dialam sana bersama bianglala penghuni syurga. Dia sudah tidak pikunlagi. Aku hanya bisa mengingat kebiasaan lucunya. Dan ada satu hal yang aku tidak pernah lupa dari wartiah. Dulu saat aku berpamitan  sebelum aku pergi merantau dia sempat berkata.
“semoga sukses, hati-hati disana, jika sudah sukses janganlah kamu pikun seperti aku yang membuat repot semua orang, kamu jangan pernah pikun akan jasa-jasa dan kebaikan orangtuamu. Tanpa dia kamu tidak akan pernah ada.”
“janganlah menjadi orang yang pikun akan jasa-jasa dari orang-orang yang ada di dekatmu”
Saat ku ingat kata-kata itu aku tersadar.
Termenunng diam, memahami perkataannya yang ia ucapkan padaku sebulan lalu.
Lantas aku berfikir mungkin saat ia minggat  dari rumahnya dulu bukan karena ia pikun. Tetapi mungkin dia menyesal karena anaknya telah pikun akan jasa-jasa wartiah dulu. Ia pergi karena anaknya benar-benar telah pikun akan suasana saat dirinya masih kecil saat dia belum bisa apa-apa, Pikun saat wartiah memomongnya dengan penuh kasih sayang, Memandikan dan merawatnya sampai dia dewasa saat ini. tapi apa yang didapat wartiah saat ini, dia sama sekali tak merasakan balas budi seorang anak pada ibunya. Semoga saja anak anaknya tidak akan pikun untuk selamanya. Semoga suatu saat dia akan tersadar oleh kepikunannya selama ini. Semoga tidak menyesal.

{Didedikasikan untuk memperingati hari ibu dan hari kartini, sebagai penghargaan atas jasa-jasa seorang ibu dan perempuan-perempuan} terima kasih......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar